KONSEP DASAR
TERMODINAMIKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Termodinamika memainkan peran penting dalam analisis sistem dan
piranti yang ada didalamnya terjadi perpindahan formasi energi. Implikasi
termodinamika bercakupan jauh, dan penerapannya
membentang ke seluruh kegiatan manusia. Bersamaan dengan sejarah
teknologi kita, perkembangan sains telah memperkaya kemampuan kita untuk
memanfaatkan energi dan menggunakan energi tersebut untuk kebutuhan masyarakat.
Kebanyaakan kegiatan kita melibatkan perpindahan energi dan perubahan energi.
Termodinamika merupakan sains aksiomatik yang berkenaan dengan
tranformasi energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Termodinamika klasik
diformalkan oleh Carnot, Joule, Kelvin, Clausian dan Boltzman telah menjembatani
celah antara titik pandang termodinamika klasik dan makroskopik. Melalui
percobaan dimungkinkan untuk menerangkan perilaku makroskopik materi dalam
perilaku probalitis partikel mikroskopiknya. Melalui percobaan J.W Gibbs
membentang pendekatan termodinamika klasik hingga ke zat yang sedang mengalami
perubahan fisis dan kimiawi.
Apabila materi diperhatikan dari sudut pandang mikroskopik,
pokok bahasan termodinamika statistik yang dianggap sebagai mekanika statistik.
Pendekatan mikroskopik berfokus pada perilaku statistik suatu massa yang
terdiri atas sejumlah molekul yang berdiri sendiri dan mengaitkan sifat-sifat
makroskopik materi dengan konfigurasi molekul dan dengan gaya-gaya antara
molekul. Perbedaan antara kedua pendekatan ini adalah dengan memperhatikan
tekanan yang dikerahkan oleh gas yang terkungkung dalam suatu wadah. Dari
pandangan mikroskopik tekanan yang dikerahkan gas pada titik tertentu dan pada
saat tertentu tergantung pada perilaku sesaat molekul yang berada di sekitar
titik tersebut.
Termodinamika klasik dan statistik cendrung untuk salaing
melengkapi dan memperkuat sehingga kedua disiplin ini memberikan lebih banyak
wawasan atas perilaku materi yang tidak satu pun diantara kedua nya dapat
memberikan secara sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
diantaranya adalah:
1. Bagaimana hukum termodinamika dapat
menjelaskan hubungan dengan fisika statistik.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain adalah
untuk:
1. Dapat memahami tentang hukum-hukum
termodinamika
2. Mengetahui besaran terukur dari suatu sistem
ditinjau melalui persamaan-persamaan termodinamika
1.4 Manfaat
Makalah ini dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya dapat
menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dasar
termodinamika.
Thermodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara spesific
membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Seperti telah
diketahui bahwa energi didalam alam dapat terwujud dalam berbagai bentuk,
selain energi panas dan kerja, yaitu energi kimia, energi listrik, energi
nuklir, energi gelombang elektromagnit, energi akibat gaya magnit, dan
lain-lain . Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, baik secara
alami maupun hasil rekayasa tehnologi. Selain itu energi di alam semesta
bersifat kekal, tidak dapat dibangkitkan atau dihilangkan, yang terjadi adalah
perubahan energi dari satu bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada pengurangan
atau penambahan. Prinsip ini disebut sebagai prinsip konservasi atau kekekalan
energi. Prinsip thermodinamika tersebut sebenarnya telah terjadi secara alami
dalam kehidupan sehari-hari. Bumi setiap hari menerima energi gelombang
elektromagnetik dari matahari, dan dibumi energi tersebut berubah menjadi
energi panas, energi angin, gelombang laut, proses pertumbuhan berbagai
tumbuh-tumbuhan dan banyak proses alam lainnya. Proses didalam diri manusia
juga merupakan proses konversi energi yang kompleks, dari input energi kimia
dalam maka nan menjadi energi gerak berupa segala kegiatan fisik manusia, dan
energi yang sangat bernilai yaitu energi pikiran kita. Dengan berkembangnya
ilmu pengetahuan dan teknologi, maka prinsip alamiah dalam berbagai proses
thermodinamika direkayasa menjadi berbagai bentuk mekanisme untuk membantu
manusia dalam menjalankan kegiatannya. Mesin-mesin transportasi darat, laut,
maupun udara merupakan contoh yang sangat kita kenal dari mesin konversi
energi, yang merubah energi kimia dalam bahan bakar atau sumber perpindahan
diatas permukaan bumi, bahkan sampai di luar angkasa. Pabrik-pabrik dapat
memproduksi berbagai jenis barang, digerakkan oleh mesin pembangkit energi
listrik yang menggunakan prinsip konversi energi panas dan kerja. Untuk
kenyamanan hidup, kita memanfaatkan mesin airconditioning, mesin
pemanas, dan refrigerators yang menggunakan prinsip dasar
thermodinamila. Aplikasi thermodinamika yang begitu luas dimungkinkan karena
perkembangan ilmu thermodinamika sejak abad 17 yang dipelopori dengan penemuan
mesin uap di Inggris, dan diikuti oleh para ilmuwan thermodinamika seperti
Willian Rankine, Rudolph Clausius, dan Lord Kelvin pada abad ke 19.
Pengembangan ilmu thermodinamika dimulai dengan pendekatan makroskopik, yaitu
sifat thermodinamis didekati dari perilaku umum partikel-partikel zat yang
menjadi media pembawa energi, yang disebut pendekatan thermodinamika klasik.
Pendekatan tentang sifat thermodinamis suatu zat berdasarkan perilaku kumpulan
partikel-partikel disebut pendekatan mikroskopis yang merupakan perkembangan
ilmu thermodinamika modern, atau disebut thermodinamika statistik. Pendekatan
thermodinamika statistik dimungkinkan karena perkembangan teknologi komputer,
yang sangat membantu dalam menganalisis data dalam jumlah yang sangat besar.
Metode termodinamika statistik dikembangkan
pertama kali beberapa tahun terakhir oleh Boltzmann di Jerman dan Gibbs di
Amerika Serikat. Dengan ditemukannya teori kuantum, Bose, Einstein, Fermi, dan
Dirac memperkenalkan beberapa modifikasi ide asli Boltzmann dan telah berhasil
dalam menjelaskan beberapa aspek yang tidak dipenuhi oleh statistik Boltzmann.
Pendekatan statistik memiliki hubungan dekat dengan termodinamika dan teori kinetik. Untuk sistem partikel di mana energi partikel bisa ditentukan, kita bisa menurunkan dengan statistik mengenai persamaan keadaan dari suatu bahan dan persamaan energi bahan tersebut. Termodinamika statistik memberikan sebuah penafsiran tambahan tentang konsep entropi.
Termodinamika statistik (Mekanika statistik), tidak seperti teori kinetik, tidak fokus pada pertimbangan tumbukan antara 1 molekul dengan molekul lain atau dengan permukaan secara detail. Malahan ia mengambil keuntungan dari fakta bahwa molekul itu memiliki jumlah yang sangat banyak dan sifat rata-rata dari sejumlah besar molekul bisa dihitung walaupun tidak berisi informasi tentang molekul tertentu. Jadi sebagai misal, perusahaan asuransi bisa memprediksi dengan ketelitian yang tinggi tentang harapan hidup rata-rata semua orang yang yang lahir di Amerika Serikat pada tahun yang diberikan, tanpa mengetahui keadaan kesehatan salah satu dari orang-orang tersebut.
Pendekatan statistik memiliki hubungan dekat dengan termodinamika dan teori kinetik. Untuk sistem partikel di mana energi partikel bisa ditentukan, kita bisa menurunkan dengan statistik mengenai persamaan keadaan dari suatu bahan dan persamaan energi bahan tersebut. Termodinamika statistik memberikan sebuah penafsiran tambahan tentang konsep entropi.
Termodinamika statistik (Mekanika statistik), tidak seperti teori kinetik, tidak fokus pada pertimbangan tumbukan antara 1 molekul dengan molekul lain atau dengan permukaan secara detail. Malahan ia mengambil keuntungan dari fakta bahwa molekul itu memiliki jumlah yang sangat banyak dan sifat rata-rata dari sejumlah besar molekul bisa dihitung walaupun tidak berisi informasi tentang molekul tertentu. Jadi sebagai misal, perusahaan asuransi bisa memprediksi dengan ketelitian yang tinggi tentang harapan hidup rata-rata semua orang yang yang lahir di Amerika Serikat pada tahun yang diberikan, tanpa mengetahui keadaan kesehatan salah satu dari orang-orang tersebut.
2.2 Klasifikasi Sistem Termodinamika
Suatu sistem thermodinamika adalah sustu masa atau daerah yang
dipilih, untuk dijadikan obyek analisis. Daerah sekitar sistem tersebut disebut
sebagai lingkungan. Batas antara sistem dengan lingkungannya disebut batas
sistem (boundary), seperti terlihat pada Gambar 1.1. Dalam aplikasinya batas
sistem nerupakan bagian dari sistem maupun lingkungannya, dan dapat tetap atau
dapat berubah posisi atau bergerak.
Gambar 1.1. Skema sistem thermodinamika
Sistem termodinamika bisa diklasifikasikan ke dalam tiga
kelompok:
1. Sistem tertutup; 2. Sistem terbuka; dan 3. Sistem terisolasi.
1. Sistem tertutup.
Merupakan sistem massa tetap dan identitas batas sistem
ditentukan oleh ruang zat yang menempatinya. Contoh sistem tertutup adalah
suatu balon udara yang dipanaskan, dimana masa udara didalam balon tetap,
tetapi volumenya berubah, dan energi panas masuk kedalam masa udara didalam
balon Sistem tertutup ditunjukkan oleh gambar 1. Gas di dalam silinder dianggap
sebagai suatu sistem. Jika panas diberikan ke silinder dari sumber luar,
temperatur gas akan naik dan piston bergerak ke atas.
Gambar 1. Sistem termodinamika tertutup.
Ketika piston naik, batas sistem bergerak. Dengan kata lain,
panas dan kerja melewati batas sistem selama proses, tetapi tidak ada terjadi
penambahan atau pengurangan massa zat.
Asyari-Daryus, Termodinamika Teknik
I Universitas Darma Persada – Jakarta. 9
2. Sistem terbuka
Pada
sistem ini, zat melewati batas sistem. Panas dan kerja bisa juga melewati batas
sistem. Gambar 2 menunjukkan diagram sebuah kompresor udara yang menggambarkan
sistem terbuka ini.
Gambar
2. Sistem termodinamika terbuka.
Zat
yang melewati batas sistem adalah udara bertekanan rendah (L.P) yang memasuki
kompresor dan udara bertekanan tinggi (H.P) yang meninggalkan kompresor. Kerja
melewati batas sistem melalui poros penggerak dan panas ditransfer melewati
batas sistem melalui dinding silinder.
3.
Sistem terisolasi
Adalah
sebuah sistem yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh lingkungannya. Sistem ini
massanya tetap dan tidak ada panas atau kerja yang melewati batas sistem.
2.3 Sifat-sifat Sistem
Keadaan
sistem bisa diidentifikasi atau diterangkan dengan besaran yang bisa
diobservasi seperti volume, temperatur, tekanan, kerapatan dan sebagainya.
Semua besaran yang mengidentifikasi keadaan sistem disebut sifat-sifat sistem.
2.4 Klasifikasi
Sifat-sifat Sistem
Sifat-sifat
termodinamika bisa dibagi atas dua kelompok umum:
1. Sifat ekstensif, dan 2. Sifat intensif.
1. Sifat ekstensif
Besaran sifat dari sistem dibagi ke dalam beberapa bagian. Sifat
sistem, yang harga untuk keseluruhan sistem merupakan jumlah dari harga
komponen-komponen individu sistem tersebut, disebut sifat ekstensif. Contohnya,
volume total, massa total, dan energi total sistem adalah sifat-sifat
ekstensif.
2. Sifat intensif
Perhatikan bahwa temperatur sistem bukanlah jumlah dari
temperatur-temperatur bagian sistem. Begitu juga dengan tekanan dan kerapatan
sistem. Sifat-sifat seperti temperatur, tekanan dan kerapatan ini disebut sifat
intensif.
2.5 Kesetimbangan
Termal
Misalkan dua benda yang berasal dari material yang sama atau
berbeda, yang satu panas, dan lainnya dingin. Ketika benda ini ditemukan, benda
yang panas menjadi lebih dingin dan benda yang dingin menjadi lebih panas. Jika
kedua benda ini dibiarkan bersinggungan untuk beberapa lama, akan tercapai
keadaan dimana tidak ada perubahan yang bisa diamati terhadap sifat-sifat kedua
benda tersebut. Keadaan ini disebut keadaan kesetimbangan termal, dan kedua
benda akan mempunyai temperatur yang sama.
2.6 Bentuk-bentuk
energi
Telah disampaikan sebelumnya bahwa energi dapat terwujud dalam
berbagai bentuk, yaitu energi kimia, energi panas, energi mekanis, energi
listrik, energi nuklir, energi gelombang elektromagnetik, energi gaya magnit,
dan lain-lain. Suatu media pembawa energi dapat mengandung berbagai bentuk
energi tersebut sekaligus, dan jumlah energinya disebut energi total (E). Dalam
analisis thermodinamika sering digunakan energi total setiap satuan masa media
(m), yang disebut sebagai energi per-satuan masa (e) yaitu,
Berbagai bentuk energi diatas dapat pula dikelompokkan menjadi
dua bentuk, yaitu energi makroskopik dan energi mikroskopik. Energi makroskopik
adalah keberadaan energi ditandai dari posisinya terhadap lingkungannya atau
terhadap suatu referensi yang ditentukan. Contoh bentuk energi makroskopik
adalah energi kinetik (KE) dan energi potensial (PE). Keberadaan energi
mikroskopik ditentukan oleh struktur internal dari= zat pembawa energi sendiri
dan tidak tergantung kepada lingkungannnya, yaitu struktur dan gerakan molekul
zat tersebut. Energi mikroskopik ini disebut sebagai energi internal (U).
Energi makroskopik berhubungan dengan gerakan masa pembawa
energi, dan pengaruh luar seperti gaya gravitasi, pengaruh energi listrik,
sifat magnit, dan tegangan pemukaan fluida. Energi kinetis KE adalah energi
yang disebabkan oleh gerakan relatif terhadap suatu referensi, dan besarnya
adalah:
atau dalam bentuk
energi per-satuan masa:
dengan, m =
satuan masa media pembawa energi
V = satuan
kecepatan gerakan masa.
Energi potensial
adalah energi yang disebabkan oleh posisi elevasinya dalam medan gravitasi, dan
besarnya adalah:
PE = m g z
Atau dalam bentuk
energi per-satuan masa,
pe = g z
dengan, g = gaya
gravitasi
z = posisi elevasi
terhadap suatu referensi.
Energi internal meliputi semua jenis energi mikroskopik, yaitu
akibat dari struktur dan aktivitas molekul dalam masa yang ditinjau. Struktur
molekul adalah jarak antar molekul dan besar gaya tarik antar molekul, sedang
aktivitas molekul adalah kecepatan gerak molekul. Energi laten adalah energi
yang merubah jarak dan gaya tarik antar molekul, sehingga masa berubah fase
antara fase padat atau cair menjadi gas. Energi sensibel merubah kecepatan
gerak molekul, yang ditandai oleh perubahan temperatur dari masa yang ditinjau.
Energi kimia adalah energi internal sebagai akibat dari komposisi kimia sua tu
zat, yang merupakan energi yang mengikat atom dalam molekul zat tersebut.
Perubahan struktur atom menyebabkan perubahan energi pengikat atom dalam
molekul, sehingga reaksinya dapat melepaskan energi (eksothermis) misalnya
dalam reaksi pembakaran, atau memerlukan energi (indothermis). Bentuk energi
internal lainnya adalah energi nuklir, yang merupakan energi ikatan antara atom
dengan intinya.
Dalam bahasan thermodinamika efek dari jenis energi makroskopik
lain yaitu energi magetik, dan tegangan permukaan fluida dapat diabaikan,
sehingga energi total E dari masa pembawa energi tersebut adalah:
E = U + KE + PE = U + + mgz
atau dalam bentuk
energi per-satuan masa,
e = u +ke +pe = u + + gz
Dalam aplikasi bidang
teknik masa atau sistem thermodinamika yang ditinjau biasanya tidak bergerak
selama proses berlangsung, sehingga perubahan energi potensial dan energi
kinetisnya sama dengan nol.
2.7 Karakteristik
Karakteristik yang menentukan sifat dari sistem disebut property dari
sistem, seperti tekanan P, temperatur T, volume V, masa m, viskositas,konduksi
panas, dan lain-lain. Selain itu ada juga property yang disefinisikan
dari property yang lainnya seperti, berat jenis, volume spesifik, panas
jenis, dan lain-lain. Suatu sistem dapat berada pada suatu kondisi yang tidak berubah,
apabila masing-masing jenis property sistem tersebut dapat
diukur pada semua bagiannya dan tidak berbeda nilainya. Kondisi tersebut
disebut sebagai keadaan (state) tertentu dari sistem, dimana sistem
mempunyai nilai property yang tetap. Apabila property nya
berubah, maka keadaan sistem tersebut disebut mengalami perubahan keadaan.
Suatu sistem yang tidak mengalami perubahan keadaan disebut sistem
dalam keadaan seimbang (equilibrium). Perubahan sistem thermodinamika
dari keadaan seimbang satu menjadi keadaan seimbang lain disebut proses, dan
rangkaian keadaan diantara keadaan awal dan akhir disebut linasan proses seperti
terlihat pada Gambar 1.2.
Gambar 1.2. Proses dari keadaan 1 ke keadaan 2
Tergantung dari jenis prosesnya, maka keadaan 2 dapat dicapai
dari keadaan 1 melalui berbagai lintasan yang berbeda. Proses thermidinamika
biasanya digambarkan dalam sistem koordinat 2 dua property, yaitu
P-V diagram, P-v diagram, atau T-S diagram. Proses yang berjalan pada satu
jenisproperty tetap, disebut proses iso - diikuti nama property nya,
misalnya proses isobaris (tekanan konstan), proses isochoris (volume konstan),
proses isothermis (temperatur konstan) dan la in-lain. Suatu sistem disebut
menjalani suatu siklus, apabila sistem tersebut menjalani rangkaian beberapa
proses, dengan keadaan akhir sistem kembali ke keadaan awalnya. Pada Gambar 1.3
(a) terlihat suatu siklus terdiri dari 2 jenis proses, dan Gambar 1.3 (b)
siklus lain dengan 4 jenis proses.
(a). Siklus dengan 2 proses (b). Siklus dengan 4 proses
Gambar 1.3. Diagram siklus thermodinamika
2.8 SISTEM SATUAN,
TEKANAN, DAN TEMPERATUR.
2.8.1 Sistem
Satuan.
Suatu sistem satuan adalah sistem besarn atau unit untuk
mengkuantifikasikan dimensi dari suatu property. Sistem satuan yang
sekarang dipergunakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, adalah Sistem
SI (Sistem Internasional. Sistem ini menggantikan 2 sistem yang dipergunakan
sebelumnya, yaitu sistem British dan sistem Metris. Dalam sistem SI ada 7 macam
dimensi dasar, yaitu panjang (m), massa (kg), waktu (detik), temperatur (K),
arus listrik (A), satuan sinar (candela-c), dan satuan molekul (mol). Satuan
gaya merupakan kombinasi dari masa dan percepatan, dan mempunyai besaran N
(Newton), yang didefinisikan menurut Hukum Newton,
F = m a
Dan 1 N adalah gaya
yang diperlukan untuk memberikan percepatan sebesar 1 m/det2 pada suatu masa
sebesar 1 kg sehingga.
1 N = 1 kg. m/det2
Ukuran berat (W)
adalah gaya yang ditimbulkan oleh masa m kg, dengan percepatan sebesar medan
gravitasi yang terjadi (g), sebagai berikut.
W = m g
Satuan W adalah
Newton, sedang besar gravitasi di bumi adalah 9,807 m/det2 di permukaan laut
dan semakin kecil dengan bertambahnya elevasi. Kerja yang merupakan salah satu
bentuk energi, adalah gaya kali jarak dengan satuan N.m, dan disebut pula J
(Joule) yaitu,
1 J = 1 N.m
Satuan Joule juga
digunakan dalam dimensi energi panas, dan biasanya ukurannya dalam kJ
(kilojoule) atau MJ (Mega Joule).
2.8.2 Tekanan.
Tekanan merupakan salah satu property yang
terpenting dalam thermodinamika, dan didefinisikan sebagai gaya tekan suatu
fluida (cair atau gas) pada satu satuan unit luas area. Istilah tekanan pada
benda padat disebut tegangan (stress). Satuan tekanan adalah Pa
(Pascal), yang didefinisikan sebagai, 1 Pa = 1 N/m2 Karena
satuan Pascal terlalu kecil, maka dalam analisis thermodinamika
seringdigunakan satua
kilopascal (1 kPa = 103 Pa), atau megapascal (1 MPa = 106 Pa). Satuan tekanan
yang cukup dikenal adalah satuan bar (barometric), atau atm (standard
atmosphere), sebagai berikut.
1 bar = 105 Pa = 0,1 Mpa = 100kPa
1 atm = 101. 325 Pa = 101,325 kPa = 1, 01325 bar
Pengukuran tekanan dengan menggunakan referensi tekanan nol
absolut disebut tekanan absolut (ata), sedang tekanan manometer (ato) adalah
tekanan relatif terhadap tekanan atmosfir. Tekanan vakum adalah tekanan dibawah
1 atm, yaitu perbedaan antara tekanan atmosfir dengan tekanan absolut, seperti
ditunjukkan dalam Gambar 1.4. sebagai berikut,
Gambar 1.4. Hubungan pengukuran beberapa jenis tekanan
Alat pengukur tekanan diatas atmosfir adalah manometer, alat
pengukur tekanan vakum disebut manometer vakum, sedang alat pengukur tekanan
atmosfir disebut barometer. Terdapat banyak jenis metode pengukuran tekanan
seperti pipa U, manometer pegas, atau transduser elektronik.
2.8.3 Temperatur
Ukuran temperatur berfungsi untuk mengindikasikan adanya energi
panas pada suatu benda padat, cair, atau gas. Metodenya biasanya menggunakan
perubahan salah satu property suatu material karena panas,
seperti pemuaian, dan sifat listrik. Prinsip pengukurannya adalah apabila suatu
alat ukur ditempelkan pada benda yang akan diukur temperaturnya, maka akan
terjadi perpindahan panas ke alat ukur sampai terjadi keadaan seimbang. Dengan
demikian temperatur yang terterapada alat ukur adalah sama dengan temperatur
pada benda yang diukur temperaturnya. Prinsip tersebut menghasilkan Hukum
Thermodinamika Zeroth (Zeroth Law of Thermodynamics), yaitu apabila dua
benda dalam keadaan seimbang thermal dengan benda ketiga maka dua benda
tersebut juga dalam keadaan seimbang thermal walaupuntidak saling bersentuhan.
Dalam sistem SI satuan temperatur adalah Kelvin (K) tanpa
derajad. Skala dari ukuran temperatur dalam derajad Celcius adalah sama dengan
skala ukuran Kelvin, tetapi titik nol oC sama dengan 273,15 K. Titik nol oC
adalah kondisi es mencair pada keadaan standard atmosfir, sedang kondisi 0 K
adalah kondisi nol mutlak dimana semua gerakan yang menghasilkan energi pada
semua materi berhenti. Dalam analisis thermodinamika, apabila yang dimaksudkan
adalah ukuran temperatur maka yang digunakan adalah ukuran dalam K, sedang
apabila analisis berhubungan dengan perbedaan temperatur maka baik ukuran oC
maupun K dapat digunakan.
2.9 Persamaan keadaan
gas ideal dan diagram P-v-T
Dari hasil eksperimen,
nilai besaran-besaran termodinamika bergantung satu sama lain.
Volume dikecilkan
Suhu
dinaikkan
tekanan naik
panjang bertambah
`Apabila volume (V),
suhu (T) dan massa (m) diatur dengan nilai tertentu, maka nilai
tekanan (P) tidak bisa sebarang. Ada hubungan antara besaran-besaran ini
sbb: f(P, V, T, m) = 0
Hubungan ini disebut persamaan keadaan.Biasanya persamaan
keadaan dituliskan berdasarkan sifat-sifat alam bukan berapa
banyak material berada, sehingga besaran ekstensif diganti dengan
nilai spesifiknya. Seperti V menjadi v= sehingga
persamaan keadaan menjadi: f(P, v, T)
= 0
Persamaan ini bervariasi dari satu zat ke zat yang lain.
Hubungan antar satu sama lain biasanya tidak sederhana. Untuk mempermudah,
sering dipakai ilustrasi grafik. Contoh eksperimen untuk 1 mole gas karbon
dioksida:
Plot antara Pv/T vs. P untuk
tiga temperatur yang berbeda.
Ilustrasi grafik
tersebut menunjukkan:
§ Tampak bahwa nilai Pv/T tidak konstan
§ Pada tekanan rendah ketiga kurva menyatu pada
nilai Pv/T = R dengan Rmerupakan
konstanta gas universal.
§ Pada suhu tinggi, kurva mendekati garis lurus
Pada tekanan yang cukup rendah, untuk semua gas:
Pv/T = R atau Pv = RT
Oleh karena itu
seringkali digunakan pendekatan “gas ideal” yang mengasumsikan bahwa
rasio Pv/T selalu sama dengan R untuk
semua tekanan dan temperatur. Kita tahu bahwa di alam tidak ada “gas ideal”
semacam itu, gas yang mendekati gas ideal terjadi pada tekanan rendah dan suhu
tinggi, namun studi tentang gas ideal sangat bermanfaat sebagai salah satu
pendekatan untuk mengetahui sifat-sifat gas sesungguhnya.
Persamaan gas ideal:
Pv = RT
karena v = maka persamaan
gas ideal juga dapat ditulis
PV = nRT
Permukaan kurva gas
ideal
2.10 Proses-Proses
dalam termodinamika
2.10.1 Proses Isokoris
(volume konstan)
Bila volume konstan,
p/T = konstan,
pi/ Ti = pf/Tf
p f
i
V
Pada proses ini DV = 0, maka usaha yang dilakukan W = 0,
sehingga
Q = DU = n cv DT
2.10.2 Proses Isobaris
(tekanan konstan)
Bila tekanan konstan,
V/T = konstan,
Vi/ Ti = Vf/Tf
p
i
f
V
Pada proses ini usaha
yang dilakukan W = p DV = p (Vf -
Vi ) , sehingga
DU = Q - W
DU = n cp DT - p DV
2.10.3 Proses
Isotermis (temperatur konstan)
Bila temperatur
konstan, pV = konstan,
Vo disini Pv = RT =
konstan, sering disebut sebagai “Hukum
Boyle”.
piVi = pfVf
p i
f
V
Pada proses ini DT = 0, maka perubahan tenaga internal DU = 0, dan usaha yang dilakukan :
W = ò p dV
p = nRT/V, maka
W = nRT ò (1/V) dV
W = nRT ln (Vf/Vi)
Q = W
2.10.4 Proses
Adiabatis
Pada proses ini tidak
ada kalor yang masuk, maupun keluar dari sistem, Q = 0. Pada proses adiabatik
berlaku hubungan pVg= konstan
(buktikan),
piVgi = pfVgf
p i
f
V
Usaha yang dilakukan
pada proses adiabatis :
W = ò p dV
p = k/Vg , k = konstan , maka
W = ò (k/Vg )
dV
W = 1/(1-g) { pfVf - piVi}
DU = -W
2.11 Hukum
Termodinamika
Berikut ini ada tiga hukum termodinamika yang penting untuk
diketahui:
1. Hukum termodinamika ke-nol;
2. Hukum termodinamika kesatu dan
3. Hukum termodinamika kedua.
2.11.1 Hukum Ke-nol
Termodinamika
Hukum ini berbunyi: “Jika dua benda berada dalam kondisi
kesetimbangan termal dengan benda ketiga, maka benda-benda tersebut berada
dalam kesetimbangan termal satu sama lainnya”.
2.11.2 Hukum Kesatu
Termodinamika
Hukum ini berbunyi: “Kalor dan kerja mekanik adalah bisa saling
tukar”. Sesuai dengan hukum ini, maka sejumlah kerja mekanik dibutuhkan untuk
menghasilkan sejumlah kalor, dan sebaliknya.
Hukum ini bisa juga dinyatakan sebagai: “Energi tidak bisa
dibuat atau dimusnahkan, namun bisa dirubah dari satu bentuk ke bentuk
lainnya”. Sesuai dengan hukum ini, energi yang diberikan oleh kalor mesti sama
dengan kerja eksternal yang dilakukan ditambah dengan perolehan energi dalam
karena kenaikan temperatur. Keseluruhan
energi potensial dan energi kinetik zat-zat yang terdapat dalam suatu sistem, disebut
energi dalam ; U . Energi dalam merupakan fungsi keadaankarena
besarnya hanya bergantung pada keadaan sistem. Bila dalam suatu perubahan
sistem menyerap sejumlah (kecil) kalor, δ q , dan melakukan kerja (kecil), δ w , makasistem akan mengalami perubahan
energi dalam, d U , sebesar
U = δ q + δ w ...…( 7)
untuk
perubahan yang besar pada suatu sistem dari keadaan 1 (energi dalamU 1 ) keadaan
2 (energi dalam U 2 ), maka akan terjadi perubahan energi
dalam (∆ U ),sebesar
∆U = U 2 - U 1…………(8)
sehingga
diperoleh
U 2 - U 1 = q + w...…
…(9)
∆U = q + w………..(10)
Persamaan (10) merupakan bentuk
matematik dari hukum pertamatermodinamika. Menurut ungkapan ini,
energi suatu sistem dapat berubah melalui kalor dan kerja.Bila kerja yang
dilakukan oleh sistem hanya terbatas pada kerja ekspansi (misalnyapada
kebanyakan reaksi kimia), maka persamaan (10) dapat diubah menjadi
U = δ q – pd V .…….. (11)
pada
volume tetap,
d V = 0, maka U =
δ q..……….. (12)
atau
untuk perubahan besar,
∆ U = q……… (13)
Menurut
persamaan (13) perubahan energi dalam adalah kalor yang diserap oleh sistem
bila proses berlangsung pada volume tetap
Secara matematik:
Q = ΔU +W
dimana, Q = kalor yang dipindahkan
ΔU = perubahan energi
dalam
W = kerja yang dilakukan
dalam satuan kalor
Persamaan di atas bisa
juga ditulis dalam bentuk diferensial atau untuk perubahan infinitisimal :
dQ = dU + dW
2.113 Hukum Kedua
Termodinamika
Hukum ini berbunyi: “Ada batas tertentu dari jumlah energi
mekanik, yang diperoleh dari sejumlah energi panas”.
Pada umumnya perubahan
yang terjadi di alam disertai dengan perubahan energi. Dalam proses perubahan
energi ini ada dua aspek penting, yaitu arahpemindahan energi dan pengubahan
energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain.Walaupun hukum pertama
termodinamika menetapkan hubungan antara kalor yangdiserap dengan kerja yang
dilakukan oleh sistem, tetapi hukum ini tidak menunjukkanbatas-batas mengenai
sumber maupun arah aliran energi.Hukum kedua termodinamika dirumuskan untuk
menyatakan pembatasan-pembatasan yang berhubungan dengan pengubahan kalor
menjadi kerja, dan jugauntuk menunjukkan arah perubahan proses di alam. Dalam
bentuknya yang palingumum, hukum kedua termodinamika dirumuskan dengan
mempergunakan suatu fungsi keadaan yang disebut entropi.
Hukum termodinamika ini telah dinyatakan oleh Claussius dalam
bentuk yang sedikit berbeda: “adalah tidak mungkin bagi mesin yang bekerja
sendiri bekerja dalam proses siklik, untuk mentransfer panas dari benda dengan
temperatur lebih rendah ke benda dengan temperatur yang lebih tinggi, tanpa
adanya bantuan pihak luar”. Atau dengan kata lain, panas tidak bisa mengalir
dengan sendirinya dari benda dingin ke benda panas tanpa bantuan pihak
eksternal.
Hukum ini juga
dinyatakan oleh Kelvin-Planck sebagai: “adalah tidak mungkin membuat mesin yang
bekerja dalam proses siklik yang tujuan tunggalnya untuk mengkonversi energi
panas ke energi kerja”. Dengan kata lain, tidak ada mesin panas sebenarnya,
bekerja dalam proses siklik, bisa merubah energi panas yang diberikan menjadi
kerja mekanik. Artinya terjadi penurunan energi dalam proses menghasilkan kerja
mekanik dari panas. Berdasarkan pernyataan ini, hukum kedua termodinamika
kadang-kadang disebut sebagai hukum degradasi energi.
Jika ∆ S as ialah
perubahan entropi yangterjadi di alam semesta, maka bagi setiap proses spontan
berlaku, ∆S as > 0.Dengan
memandang alam semesta itu sebagai sistem dan lingkungan, maka dapatpula
dikatakan bahwa untuk semua proses spontan berlaku,
∆S Sistem + ∆S lingkungan > 0
dengan ∆S sistemialah
perubahan entropi sistem dan ∆S lingkungan ialah perubahan entropi lingkungan.
2.12 Hukum
ketiga termodinamika
2.12.1 Entropi zat
mumi pada titik not absolut
Entropi
dapat dipandang sebagai besaran makroskopis yang mengukurketidakteraturan
sistem, yang berarti suatu sifat menyangkut sejumlah besar molekulyang tersusun
secara tidak teratur dalam ruangan termasuk distribusi energinya.Sebagai
ilustrasi, dua buah balon yang sama besar dan saling berhubungan melaluisebuah
kran. Satu balon berisi
N molekul gas ideal, sedangkan balon yang satu
hampaudara. Jika kran dibuka, maka gas akan berdifusi ke dalam balon
yang kosong secarasecara spontan, sehingga distribusi gas dalam dua
buah balon menjadi merata.Kebolehjadian untuk menemukan sebuah molekul gas pada
salah satu balonadalah ½. Kebolehjadian untuk menemukan dua buah molekul dalam
balon yangsama adalah (½)2 ,
dan kebolehjadian untuk menemukan N molekul berada dalambalon yang sama adalah
(½) N. Kebolehjadian semakin
kecil dan praktis mendekati nolapabila harga
N sangat
besar (misalnya sebesar tetapan Avogadro) Gas yangberdifusi secara spontan dan
mengisi stiap ruang yang ada dalam balon merupakankeadaan dengan kebolehjadian
yang paling tinggi, atau keadaan yang paling memungkinkan .Jika
W menyatakan besarnya
kebolehjadian sistem untuk mencapai suatukeadaan tertentu, maka
menurut Boltzmann dan Planck hubungan antara entropi dankeboleh
jadian diberikan oleh ungkapan S = k ln W
(k = tetapan Boltzmann) Entropi dapat dihubungkan
dengan ‘kekacauan’ atau ketidakteraturan
sistem.Keadaan sistem yang kacau ialah keadaan di mana partikel-partikel
(molekul, atom atau ion) tersusun secara tidak teratur. Makin kacau susunan
keadaan sistem, makinbesar kebolehjadian keadaan sistem dan makin besar
entropi. Oleh karena itu zatpadat kristal pada umumnya mempunyai entropi yang
relatif rendah dibandingkandengan cairan atau gas. Gas mempunyai entropi yang
paling tinggi karena keadaansistem paling tidak teratur.Seperti telah diuraikan
di atas bahwa makin kacau atau tidak teratur susunanmolekul, makin tinggi harga W dan entropi. Sebaliknya makin teratur
susunanmolekul sistem, makin rendah harga W dan entropi. Kalau suatu zat murnididinginkan
hingga dekat 0 K, semua gerakan translasi dan rotasi terhenti
danmolekul-molekul mengambil kedudukan tertentu dalam kisi kristal. Molekul
hanyamemiliki energi vibrasi yang sama besar sehingga berada dalam keadaan
kuantumtunggal. Ditinjau dan kedudukan dan distribusi energi, penyusunan
molekul-molekuldalam suatu kristal yang sempurna pad 0 K hanya dapat
dilaksanakan dengan satucara. Dalam hal ini W = 1 dan ln W = 0, sehingga menurut persamaan boltzmann S
= 0. Jadi, entropi suatu kristal murni yang sempurna ialah nol pada
0 K . Pernyataan initerkenal sebagai
Hukum Ketiga Temomedinamika. Ungkapan matematik hukumtermodinamika ketiga
adalah
0S T=0 = 0
2.12.2 Fungsi Energi Bebas Helmholtz
Bagi suatu perubahan kecil yang
berlangsung tak reversibel pada temperatur T berlaku:
dS> δ q/T atau δ
q - T d S<0
kalau sistem hanya dapat melakukan kerja
volume, maka persamaan (43) dapatdiubah menjadid
U + pdV -T dS< 0 ..
pada volume tetap, dV =
0, sehinggad
U - T d S <
0 atau d( U — TS ) T,p < 0
fungsi
U - TS,
yang merupakan fungsi keadaan, disebut
energi bebas Helmholtz,
A, A=U-TS
Bila persamaan dideferensiasi, diperolehd
A = d U - T dS – Sd T
bagi proses yang
berjalan reversibel dan isoterm
d A = δ W ..
jadi penurunan energi bebas helmholtz, -
∆ A , ialah kerja maksimum yang dapatdihasilkan dan
suatu proses yang dikerjakan secara isoterm.
2.12.3 Fungsi Energi Bebas Gibbs
Kebanyakan proses biasanya dikerjakan pada
temperatur dan tekanan tetap.Pada kondisi ini, persamaan (44) dapat ditulis
dalam bentuk,d( U — pV — TS)T,p<
0 .
Besaran U + PV — TS
merupakan fungsi keadaan, disebut energi
bebas Gibbs ,
G.
G =U+PV — TS =H -TS =A
+ PV
Jadi, suatu proses
yang berlangsung pada temperatur dan tekanan tetap disertaidengan penurunan
energi bebar Gibbs,
(d G) T,p < 0 (hanya
kerja volume)
Suatu persamaan penting yang mengkaitkan ∆ H , ∆S dan ∆G dapat diturunkan sebagai berikut, ∆ G
= ∆ H - T ∆ S
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Termodinamika merupakan
ilmu yang mengkaji berbagai bentuk energi danhubungannya satu dengan yang lain.
bersifat mendasar untuk semua ilmu. Ruanglingkup termodinamika kimia ialah
hubungan antara berbagai energi jenis tertentudengan sistem kimia. Hukum
pertama termodinamika adalah suatu pernyataan hukumpelestarian energi. Energi
total suatu sistem adalah energi dalamnya yang merupakansuatu fungsi keadaan.
Suatu perubahan energi dalam, ∆
U , dilaksanakan dengantransfer
kalor ataupun perlakuan kerja.Termokimia menangani pengukuran dan penafsiran
perubahan kalor yangmenyertai proses kimia. Kebanyakan pengukuran semacam itu
dilakukan dengan sebuah kalorimeter. Kespontanan suatu reaksi kimia tertentu
dapat terjadi tidak hanya bergantungpada perubahan entalpi, ∆ H
,tetapi juga pada temperatur dan perubahan
entropi, ∆ S ,yang mengukur
perubahan dalam derajat ketidakteraturan suatu sistem. Entropicenderung
mencapai harga maksimum yang dimungkinkan oleh besarnya energidalam sistem. Hal
ini diungkapkan dalam hukum kedua termodinamika. Pada 0 K(suhu mutlak) nilai
entropi pada semua zat nyata adalah nol, dan ini merupakanhukum ketiga
termodinamika.
3.2 Saran
Disarankan kepada para
pembaca, khususnya progam pendidikan fisika haruslah dapat mengetahui dan memahami
tentang model-model atom, karena materi inii sangat berkaitan dengan ilmu
fisika. Dan materi ini juga dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam
mempelajarinya.
CONTOH – CONTOH
SOAL.
1. Jika kalor sebanyak 2000 Joule ditambahkan
pada sistem, sedangkan sistem melakukan kerja 1000 Joule, berapakah perubahan
energi dalam sistem ?
Panduan jawaban :
∆U = Q – W
∆U = 2000 J – 1000 J
∆U = 1000 J
2. Kurva 1-2 pada dua diagram di bawah
menunjukkan pemuaian gas (pertambahan volume gas) yang terjadi secara adiabatik
dan isotermal. Pada proses manakah kerja yang dilakukan oleh gas lebih kecil ?
Kerja yang dilakukan
gas pada proses adiabatik lebih kecil daripada kerja yang dilakukan gas pada
proses isotermal. Luasan yang diarsir = kerja yang dilakukan gas selama proses
pemuaian (pertambahan volume gas). Luasan yang diarsir pada proses adiabatik
lebih sedikit dibandingkan dengan luasan yang diarsir pada proses isotermal.
3. Serangkaian proses termodinamika ditunjukkan
pada diagram di bawah… kurva a-b dan d-c = proses isokorik (volume konstan).
Kurva b-c dan a-d = proses isobarik (tekanan konstan). Pada proses a-b, Kalor
(Q) sebanyak 600 Joule ditambahkan ke sistem. Pada proses b-c, Kalor (Q)
sebanyak 800 Joule ditambahkan ke sistem. Tentukan :
a) Perubahan energi dalam pada proses a-b
b) Perubahan energi
dalam pada proses a-b-c
P1 = 2 x 105 Pa = 2 x 105 N/m2
P2 = 4 x 105 Pa = 4 x 105 N/m2
V1 = 2 liter = 2 dm3 = 2 x 10-3 m3
V2 = 4 liter = 2 dm3 = 4 x 10-3 m3
Panduan jawaban :
a) Perubahan energi dalam pada proses a-b
Pada proses a-b, kalor
sebanyak 600 J ditambahkan ke sistem. Proses a-b = proses isokorik (volume
konstan). Pada proses isokorik, penambahan kalor pada sistem hanya menaikkan
energi dalam sistem. Dengan demikian, perubahan energi dalam sistem setelah menerima
sumbangan kalor :
∆U = Q
∆U = 600 J
b) Perubahan energi dalam pada proses a-b-c
Proses a-b = proses
isokorik (volume konstan). Pada proses a-b, kalor sebanyak 600 J ditambahkan ke
sistem. Karena volume konstan maka tidak ada kerja yang dilakukan oleh sistem.
Proses b-c = proses
isobarik (tekanan konstan). Pada proses b-c, kalor (Q) sebanyak 800 Joule
ditambahkan ke sistem. Pada proses isobarik, sistem bisa melakukan kerja.
Besarnya kerja yang dilakukan sistem pada proses b-c (proses isobarik) adalah :
W = P(V2-V1) — tekanan konstan
W = P2 (V2-V1)
W = 4 x 105 N/m2 (4 x 10-3 m3 -
2 x 10-3 m3)
W = 4 x 105 N/m2 (2 x 10-3 m3)
W = 8 x 102 Joule
W = 800 Joule
Kalor total yang
ditambahkan ke sistem pada proses a-b-c adalah :
Q total = Qab + Qbc
Q total = 600 J + 800 J
Q total = 1400 Joule
Kerja total yang
dilakukan oleh sistem pada proses a-b-c adalah :
W total = Wab + Wbc
W total = 0 + Wbc
W total = 0 + 800 Joule
W total = 800 Joule
Perubahan energi dalam
sistem pada proses a-b-c adalah :
∆U = Q – W
∆U = 1400 J – 800 J
∆U = 600 J
Perubahan energi dalam
pada proses a-b-c = 600 J
4. Sebuah mesin uap bekerja antara suhu 500 oC
dan 300 oC. Tentukan efisiensi ideal (efisiensi Carnot) dari
mesin uap tersebut.
Panduan jawaban :
Suhu harus diubah ke dalam skala kelvin
TH (suhu tinggi) = 500 oC = 500
+ 273 = 773 K
TL (suhu rendah) = 300 oC = 300
+ 273 = 573 K
5. Sebuah mesin kalor menyerap kalor sebanyak
3000 Joule (QH), melakukan usaha alias kerja (W) dan membuang kalor
sebanyak 2500 Joule (QL). Berapakah efisiensi mesin kalor tersebut ?
Panduan jawaban :
e = 1 -
e = 1 -
e = 1 – 0,83
e = 0,17
e = 17%
6. Agar efisiensi ideal alias efisiensi mesin
Carnot mencapai 100 % (1), berapakah suhu pembuangan (TL) yang diperlukan ?
Panduan jawaban :
e = 1 -
1 = 1 -
= 1 – 1
= 0
Tl = (0)(TH) = 0
Agar efisiensi ideal
alias efisiensi mesin kalor sempurna bisa mencapai 100 % (semua kalor masukkan
bisa digunakan untuk melakukan kerja) maka suhu pembuangan (TL)
harus = 0 K.
Karena efisiensi 100 %
tidak bisa dicapai oleh mesin kalor maka kita bisa menyimpulkan bahwa tidak
mungkin semua kalor masukan (QH) digunakan untuk melakukan
kerja.Pasti ada kalor yang terbuang (QL). Hasil ini bisa ditulis
dengan bahasa yang lebih gaul :
Tidak mungkin ada
mesin kalor (yang bekerja dalam suatu siklus) yang dapat mengubah semua kalor
alias panas menjadi kerja seluruhnya(Hukum kedua termodinamika – pernyataan
Kelvin-Planck).
7. Sejumlah gas dalam sebuah wadah mengalami
pemuaian adiabatik. Berapakah perubahan entropi gas tersebut ?
Panduan juawaban :
Selama proses
adiabatik, tidak ada kalor yang masuk atau keluar sistem (gas). Karena Q = 0
maka delta S = 0. Bisa disimpulkan bahwa pada proses pemuaian adiabatik,
entropi sistem tidak berubah alias selalu konstan…
Bagaimanakah dengan
penekanan adiabatik ? Pada dasarnya sama saja. Selama penekanan adiabatik,
tidak ada kalor yang masuk atau keluar dari sistem (Q = 0). Karenanya entropi
sistem tidak berubah alias selalu konstan.
8. Sebuah tangki berisi 4 liter gas oksigen (O2).
Suhu gas oksigen tersebut = 20 oC dan tekanan terukurnya = 20 x 105 N/m2. Tentukan massa gas oksigen tersebut
(massa molekul oksigen = 32 kg/kmol = 32 gram/mol)
Panduan jawaban :
P = Patm + Pukur = (1 x 105 N/m2) + (20 x 105 N/m2) = 21 x 105 N/m2
T = 20 oC + 273 = 293 K
V = 4 liter = 4 dm3 = 4 x 10-3 m3
R = 8,315 J/mol.K = 8,315 Nm/mol.K
Massa molekul O2 = 32 gram/mol = 32 kg/kmol
Massa O2= ?
PV = nRT →
PV = RT
(massa)(R)(T) = (P)(V)(massa molekul)
Massa =
Massa =
Massa =
Massa =
Massa =
Massa = 1,1x102 gram
Massa = 110 gram
Massa gas oksigen = 110 gram = 0,11 kg
9. Pada suhu 20 oC, tekanan ukur ban mobil = 300 kPa. Setelah mobil
melaju dengan kecepatan tinggi, suhu di dalam ban naik menjadi 40oC.
Berapa tekanan di dalam ban sekarang ?
Panduan jawaban :
T1 =
20 oC
+ 273 = 293 K
T2 =
40 oC
+ 273 = 313 K
P1 =
Patm + Pukur 1 = 101 kPa+ 300 kPa = 401 kPa
P2= ?
=
P2 =
P2 =
V2 =
428,4 kPa
Kurangi dengan tekanan atmosfir
P2 =
428,4 kPa – 101 kPa = 327,4 kPa
Setelah
suhu di dalam ban meningkat menjadi 40 oC, tekanan dalam ban bertambah menjadi 327,4 kPa. Ini
adalah tekanan ukur. Besarnya pertambahan tekanan adalah : 327,4 kPa – 300 kPa
= 27,4 kPa
Kalau dihitung dalam persentase :
x 100% = 0,09 %
Kenaikan tekanan di dalam ban sebesar 0,09 %
Berikut
ini seperangkat peralatan perang dan amunisi yang mungkin dibutuhkan :
Volume
1 liter (L) = 1000 mililiter (mL) = 1000 centimeter
kubik (cm3)
1 liter (L) = 1 desimeter kubik (dm3) = 1 x
10-3 m3
Tekanan
1 N/m2 = 1 Pa
1
atm = 1,013 x 105 N/m2 = 1,013 x 105 Pa = 1,013 x 102 kPa = 101,3 kPa (biasanya dipakai 101 kPa)
Pa = pascal
atm = atmosfir
10. Suatu gas menerima kalor 4.000 kalori,
menghasilkan usaha sebesar 8.000 J. Berapakah perubahan energi dalam pada gas?
(1 kalori = 4,18 joule)
Penyelesaian :
Q = 4.000 kalori = 16.720 J
W = 8.000 J
∆U = ... ?
∆U = ∆Q – W = (16.720 – 8.000) J = 8.720 J
11. Sejumlah 4 mol gas helium suhunya dinaikkan
dari 0 oC menjadi 100 oC pada tekanan tetap.
Jika konstanta gas umum R = 8,314 J/mol.K, tentukan:
a. perubahan energi dalam,
b. usaha yang dilakukan gas, dan
c. kalor yang diperlukan!
Penyelesaian:
n = 4 mol = 0,004 mol
T1 = 0 oC = 0 + 273 = 273 K
T2 = 100 oC = 100 + 273 = 373 K
R = 8,314 J/mol.K
∆U = ... ?
W = ... ?
Q = ... ?
a. ∆U = n R (T1 - T2)
∆U = (0,004 8,314(373 273))
∆U = 4,988 J
b. W = P (V2– V1)
W = nR(T2–T1) =
W = 0,004 x 8,314 (373 – 273) = 3,326 J
c. Q = ∆U x W
Q = (4,988 + 3,326) J = 8,314 J
12. Suatu mesin Carnot dengan reservoir panasnya
bersuhu 400 K mempunyai efisiensi 40%. Jika mesin tersebut reservoir panasnya
bersuhu 640 K, tentukan efisiensinya!
Penyelesaian:
T1 = 400 K
η1 = 40%
η = ... ? (T1 = 640 K)
η = x 100
% untuk
T1 = 640 K maka :
0,4
=
η = x 100 %
0,4=
η = x 100
%
=
0,4
η = 37,5 %
T2 =
160 K
13. Suatu sistem gas berada dalam ruang yang
fleksibel. Pada awalnya gas berada pada kondisi P1 = 1,5 × 105 N/m²
, T1 = 27º C, dan V1 = 12 liter.Ketika gas
menyerap kalor dari lingkungan secara isobaric suhunya berubah menjadi 127º C.
Hitunglah volume gas sekarang dan besar usaha luar yang dilakukan oleh gas!
Penyelesaian :
P1 = 1,5 × 105 N/m2
T1 = 27 + 273 = 300 K
V1 = 12 liter = 1,2 × 10-2 m3
T2 = 127 + 273 = 400 K
P2 = P1 (isobarik)
a. V2= ... ?
b. W = ... ?
a. =
V2 =
V2 =
V2 =
1,6 x 10-2 m3
Jadi, volume gas
akhirsebesar 1,6 × 10-2 m3.
b. W = P × ∆V = P × (V2 – V1)
W = 1,5 × 105 (1,6 × 10-2 – 1,2
× 10-2)
W = (1,5 × 105) × (0,4 × 10-2)
W = 0,6 × 103
W = 6 × 102 J
Jadi usaha luar yang dilakukanoleh gas sebesar W = 6 × 10² J
14. sepotong tembaga dengan massa m1 =
300 g temperature mula-mula t1 = 970C diletakkan
dalam sebuah calorimeter yang berisi air dengan massa 100 g dan suhu t2 =
7 0C. tentukan kenaikan entropi dari system sesaat setelah
tercapai keseimbangan thermal ? … abaikanlah kapasitas panas dari
calorimeter ? …
penyelesaian
Qserap = Qlepas
Qair = QCu
m2 .c2(T – T2) = m1 .
c1(T1 – T)
T =
T =
T = 26,608940C = 299,60894 K
15. ada bungkusan sebuah biskuit terdapat tulisan :
karbohidrat = 10 kkal. Berapakah tambahan energi yang diperoleh tubuh jika
biskuit tersebut dimakan ?
Panduan Jawaban :
1 kkal = 1000 kalori = 4.186 Joule
10 kkal = (10)(4186 Joule) = 41.860 Joule
Tubuh
kita tidak mengubah semua karbohidrat menjadi energi. Sebagian energi pasti
terbuang selama berlangsungnya proses pencernaan….. Efisiensinya sebesar 20
%.Jadi hanya 20 % yang dipakai tubuh, 80 % energi terbuang.
1.
DAFTAR
PUSTAKA
- Zemansky, Mark W,1982. Kalor dan
Termodinamika.Penerbit ITB: Bandung
- Saad,Michel A, 2000, Termodinamika
Prinsip dan Aplikasi. PABELA: Surakarta
- Bueche, Frederick J. 1992. Fisika
teori dan soal-soal. Penerbit Erlangga: Jakarta.
- Asyari-Daryus, Termodinamika Teknik I
Universitas Darma Persada –
Jakarta. 10